Kamis, 25 September 2025

SMP Santa Maria, sekolahku.

 



Ringkasan profil SMP Santa Maria Bandung (sekolah aku):


Nama Sekolah: SMP Santa Maria Bandung

Alamat: Jl. Jend. Ahmad Yani No. 273, Cihapit, Bandung Wetan, Kota Bandung, Jawa Barat.

Status: Sekolah swasta, di bawah naungan Yayasan Salib Suci.

Jenjang: Sekolah Menengah Pertama (SMP). Waktu penyelenggaraan adalah sekolah sehar± 6 jam.

Akreditasi: A



Sekolah ini didirikan sejak 26 April 1949 berdasarkan Surat Keputusan Pendirian Nomor V/7/1943.

Alamat asli dulu berada di Jl. Jakarta No. 5, lalu pindah ke alamat sekarang (Jalan Ahmad Yani No. 273) di tahun 1997.

Kepala sekolah saat ini adalah ibu Christina Meliyana Wati, S.Pd.


Visi: Menjadi lembaga pendidikan yang terdepan dalam membentuk insan berbudi pekerti dan cerdas berbasis nilai-nilai Katolik, berhati nurani, berbelas kasih, dan bertanggung jawab.

Misi antara lain:

  1. Menanamkan nilai moral dan etika Katolik sebagai dasar keputusan yang harmonis antara pikiran, ucapan, dan tindakan.

  2. Memupuk rasa cinta kasih dan kepedulian terhadap sesama.

  3. Mengembangkan jiwa kepemimpinan yang bertanggung jawab, menghargai perbedaan, dan teguh pada nilai-nilai yang baik dan benar.

Fasilitas & Data Pendukung
Luas tanah sekolah sekitar 32.700 m²
Struktur fisik: ada ruang kelas (jumlah ±9 kelas)
Perpustakaan tersedia, laboratorium ilmiah (IPA) juga ada.

Keunikan & Citra Sekolah

  • Sekolah ini menekankan bukan hanya akademik, tetapi juga pendidikan karakter berdasarkan nilai-nilai Katolik: moral, belas kasih, tanggung jawab.

  • Alumni menyatakan bahwa SMP Santa Maria Bandung memberikan ruang berkembang yang cukup pikeun siswa: fasilitas mendukung, guru yang berperan ramah, dan suasana belajar yang mendukung pertumbuhan pribadi.


Link sekolah: https://www.smpsantamaria.sch.id



Zoologi, hobiku

Zoologi, hobi aku yang paling paling besar/bermakna/penting atau semacamnya. Di artikel kali ini, aku mau ngebahas itu.

Zoologi itu cabang biologi yang mempelajari hewan. Mulai dari bentuk tubuhnya, cara hidupnya, tingkah lakunya, sampai hubungannya dengan manusia dengan lingkungan. Singkatnya, zoologi itu tugas dimana kita nyelidikin hewan biar lebih paham mereka.


Zoologi nggak cuma satu bidang. Ada yang fokus ke serangga (entomologi), burung (ornitologi). ikan (ikhtiologi), dan juga mamalia (mammologi). Jadi bisa pilih spesialisasi sesuai minat.

Nggak cuma teori, tapi juga praktik. Belajar zoologi melibatkan pengamatan langsung. Bisa di laboratorium, kebun binatang, sampai di alam liar. Jadi nggak selalu baca buku.


Zoologi membantu kita memahami penyakit yang berasal dari hewan dan cara menjaga keseimbangan ekosistem.

Zoologi ini bisa jadi karier serius, dan itu jalan aku saat ini. Dari peneliti, konservasionis, dokter hewan, sampai kerja di taman nasional atau lembaga lingkungan. Intinya, banyak jalan buat pencinta hewan.


Semakin tahu tentang hewan, kita jadi lebih peduli untuk menjaga mereka dan habitatnya.

Dunia hewan itu penuh kejutan. Ada hewan yang bisa hidup tanpa otak, ada yang bisa tidur sambil terbang, ada juga yang bisa "lahir kembali" dengan regenerasi tubuh. Kalo nggak belajar zoologi, semua itu kamu percaya hanya dengan iman, bukan pengetahuan langsung.

Apakah Robot Bakal Ngambil Pekerjaan Kita Sepenuhnya?


Beberapa tahun terakhir, kita sering banget denger berita tentang robot dan AIMulai dari robot pelayan restoran, kasir otomatis, sampai AI yang bisa nulis artikel kayak manusia. Jadi pasti udah muncul pertanyaan, “Apakah nanti robot bakal ngerebut kerjaan manusia?” Sekarang, yuk, kita bahas!


Jadi:

Robot dan AI memang punya kelebihan, cepet dan nggak capek, mereka bisa bekerja 24 jam tanpa minta gaji. Mereka juga teliti banget, kalau kerjaan yang sifatnya berulang-ulang, robot lebih pandai dalam pengenalan pola dan jarang bikin salah. Belum lagi hemat biaya, buat perusahaan besar, pake mesin bisa lebih murah daripada gaji puluhan karyawan.

Tenang dulu, robot memang pinter, tapi ada batasnya:

Kurang kreatif. Inovasi, ide-ide gila dan humor itu masih khas manusia. Robot bisa jawab pertanyaan-pertanyaan kita, tapi nggak bisa bener-bener ngerti perasaan kita, nggak punya empati. Robot juga tetap harus dibuat, diprogram dan dirawat manusia.



Jadi, kita harus gimana?

Biar nggak kalah sama mesin, kita bisa:

Asah skill kreatif dan sosial. Misalnya komunikasi, leadership, atau berpikir kritis.

Belajar teknologi, bukannya kabur. Makin ngerti teknologi, makin besar peluang kerja kita bareng AI, bukan dilawan. 

Kita harus fokus ke hal yang bikin kita beda. Robot memang spesial, bisa ini, bisa itu, tapi nggak bisa hidup kayak manusia.


Penutup

Robot dan AI bukan musuh, tapi partner baru kita. Hal-hal umum biarin mereka yang ambil alih, biar manusia bisa fokus ke hal-hal yang lebih seru, kreatif dan bermakna. Intinya, santai aja. Masa depan bukan tentang persaingan manusia dan mesin, tapi manusia plus mesin.






Pemanfaatan Teknologi dari Lars

Saat ini, di era digital, teknologi bukan lagi semata alat bantu, tetapi telah menjadi bagian penting kehidupan manusia. Semua aspek kehidupan manusia telah terjangkau oleh teknologi, dari pendidikan, kesehatan, bisnis, hingga gaya hidup. Dengan teknologi, batasan waktu dan ruang udah nggak lagi jadi sebuah hal yang perlu dikhawatirkan. 


1. Belajar jadi fleksibel tidak harus di kelas

Teknologi meluaskan akses pada pendidikan melalui e-learning dan platform digital. Siswa dapat melihat konten-konten pelajaran sekolah/kuliah dari rumah menggunakan aplikasi seperti Google Classroom atau Zoom, sementara kursus online seperti Coursera atau Ruangguru memberi kebebasan pilihan dalam pendidikan.


2. Kesehatan konsultasi dokter dari rumah?!

 InDalam hal ini, teknologi mendukung pelayanan dengan telemedicine. Pasien dapat menghubungi dokter dan memesan obat online melalui smartphone di genggaman, resep tinggal dikirim ke apotek terdekat, obat diantar. Innovasi ini bukan cuman menghemat waktu, tetapi juga membantu deteksi dini terhadap penyakit.



3. Transportasi dan layanan sehari-hari

Aplikasi transportasi dan delivery nggak hanya memudahkan perjalanan — mereka jadi aplikasi serbaguna: antar makanan, belanja kebutuhan rumah, sampai booking layanan kebersihan. Efeknya? Waktu luang jadi lebih banyak kalau kita pandai mengatur prioritas.



3. Bisnis kecil, jangkauan besar

Dulu jualan itu hanya jualan dari rumah ke tetangga, sekarang social commerce membuat segalanya mungkin. Foto produk rapi, caption yang jujur, sama sistem pembayaran digital = pelanggan dari kota lain. 


4. Alat-alat kecil yang berdampak besar

Jam tangan pintar dan aplikasi kesehatan membantu monitor tidur, langkah. Kebanyakan orang nggak sadar dengan penuh bahwa mereka sering bergantung kepada aplikasi pengingat/jadwal dan seberapa pentingnya aplikasi-aplikasi tersebut.


5. Rumah yang lebih "pintar"

Ada lampu otomatis, kamera pintu, atau smart plug yang bisa dimatiin lewat smartphone — ini berguna banget kalau sering lupa mematikan alat listrik. Memang bukan kebutuhan primer, tapi untuk keluarga yang aktif, smart home bisa meningkatkan rasa aman dan efisiensi energi.



Teknologi itu alat, bukan tujuan

Teknologi keren kalau dipakai untuk memudahkan hidup, bukan bikin hidup terikat sepenuhnya. Pilih yang sederhana, fungsional, dan sesuai kebutuhan keluarga.






Profile dan Pengenalan Lars

Nama lengkap saya Lars Gregorios Kasim, saya berusia 14 tahun. Rumah saya berada di Kecamatan Coblong, Bandung dan saya memiliki status sebagai pelajar. Saya lahir di Bandung, 24 Oktober 2011. Saya juga tinggal dengan 2 adik perempuan, 1 ayah dan 1 ibu. Saya sekolah di SMP Santa Maria, dan pulang ke rumah paling lambat sekitar pukul 3:40 sore. Saya paling lambat tidur jam 11 malam, dan memastikan saya mendapatkan setidaknya 6 jam tidur. Seperti bayi, saya bangun tanpa rasa lelah atau stres di pagi hari. Saya mencoba menjelaskan bahwa saya adalah orang yang ingin menjalani kehidupan yang damai dan sederhana.

Saya memiliki dua hobi, mempelajari ilmu hewan (zoology) dan mempraktikkannya, serta MMA (Mixed Martial Arts).

Saint Mary's Way - Panti Werdha *THE RECOUNT TEXT*

My Experience of Saint Mary’s Way A little while ago, I joined a school program called Saint Mary’s Way, which was created for ninth graders...