Senin, 24 November 2025

Sentuhan Kasih di Usia Senja: Pelajaran Iman dari Panti Werdha.

Halo. Di postingan ini, saya akan menceritakan pengalaman saya melaksanakan kegiatan Saint Mary's Way 

Pertama-tama, Saint Mary's Way ini adalah sebuah kegiatan yang secara khusus hanya dilakukan murid-murid kelas 9 dan menurut saya ini lumayan keren karena kita jadi punya pengalaman baru bareng-bareng. Program Saint Mary's Way ini bertujuan mengajak murid-murid untuk melayani dan menunjukkan kasih kepada sesama — intinya kayak belajar jadi orang yang lebih peduli gitu. Terdapat berbagai pilihan kegiatan yang ditawarkan, seperti mengunjungi panti dan melayani di sana, doa lingkungan, koor, dll. Tapi, habis ngobrol-ngobrol dikit, saya dan beberapa teman lain (yang kemudian nanti sekelompok sama saya) memilih untuk mengunjungi panti, lebih tepatnya Panti Werdha karena rasanya bakal seru (karena anggota kelompoknya banyak).

Tahapan pertama yang kelompok saya lakukan adalah membuat proposal untuk mengunjungi dan melayani di Panti Werdha yang kemudian diserahkan kepada pihak panti. Setelah disetujui, kami mulai membuat rencana mengenai apa saja yang akan kita lakukan di Panti Werdha, tanggal pelaksanaan dan berbagai informasi lain dimana kelompok saya menggunakan kelas 9.3 sebagai sarana pertemuan sehari-hari.


SEE
Hari pelaksanaan pelayanan ditetapkan menjadi hari Sabtu, 27 September 2025.
Pada hari itu, saya tiba paling terakhit di Panti Werdha pada pukui sekitar 08:40. Setelah kami semua sudah berkumpul, kami berfoto-foto di tempat parkir sebelum masuk ke dalam gedung panti. Pada 09:00, kita mulai memasuki gedung panti, dimana kita disambut oleh salah satu suster senior disana dan diarahi ke aula yang penuh dengan oma-oma yang sudah menunggu, tempat kita melaksanakan pelayanan dan suasananya langsung kerasa hangat banget.

Kegiatan diawali dengan pembukaan dari MC kelompok kami, kemudian dilanjutkan dengan pujian bernyanyi bersama, doa pembuka, lalu pujian sekali lagi. Setelah itu, acara dilanjutkan dengan permainan oper bola selama sekitar setengah jam, lalu kegiatan oma-oma memakan buah yang berlangsung selama 30 menit juga. Kemudian, mulailah game "kembali ke masa lalu" dengan saya sebagai salah satu penanggung-jawabnya. Saat permainan, ada oma yang dengan sukacita dan nostalgia menceritakan masa lalunya, ada juga yang benar-benar/secara besar lupa akan masa lalunya (yang bikin saya sedikit sedih/haru). Kegiatan selanjutnya yaitu oma-oma makan snack dan ngobrol bersama, yang berlangsung selama satu jam dan suasananya santai banget.

Lalu, game terakhir mulai, yaitu game papan dimana oma-oma menulis satu saran/ajaran hidup bagi generasi muda di sebuah papan kecil yang berlangsung setengah jam, sedihnya nenek yang saya dampingi tidak memberi wejangan apa-apa. Tapi sebelum permainan itu, Beliau sudah ngomong kalau saya harus sekolah dengan rajin. Dan akhirnya, sebelum penutup, kami dan oma-oma foto bersama yang setelah itu dilanjutkan dengan penutup oleh MC dan doa penutup. Kami memberi salam kepada setiap oma-oma di aula sebelum pergi keluar dari gedung. Sesampainya di luar gedung, kami saling berpamitan dan pulang dengan hati yang lumayan hangat.

Saat acara berjalan, saya melihat ada banyak oma-oma yang bahagia karena keadaan kita dan mengikuti games dengan gembira, ada juga yang sepertinya bosan dan acuh tak acuh, mungkin sebenarnya senang di hati tapi kalau di mata saya oma-oma tersebut kurang terpengaruh. Namun, meski begitu saya tetap menjalankan pelayanan dengan sukacita karena ya sudah niatnya mau melayani.

Tugas saya adalah sebagai penanggung jawab permainan "kembali ke masa lalu." 


JUDGE
“Do nothing out of selfish ambition or vain conceit. Rather, in humility value others above yourselves.” — Philippians 2:3

Rendah Hati:
Ya, dalam pelayanan ini saya belajar untuk melayani dengan tulus tanpa mengharapkan timbal balik kebaikan. Jujur, saat melayani hanya demi kebaikan oma-oma, saya merasa seakan lega/damai, seolah pelayanan itu sendiri sudah menjadi hadiah yang bikin hati adem.

Setia:
Pengalaman ini memperkuat komitmen saya kepada Gereja dan iman karena saya merasa benar-benar dipanggil untuk hadir bagi sesama. Melayani dan menemani oma-oma itu sendiri sudah menjadi bagian dari panggilanku sebagai murid Kristus dan itu kerasa banget.

Melakukan Kehendak Allah:
Ya, menurut saya pelayanan ini adalah wujud dari kasih kepada Tuhan dan sesama karena melalui kehadiran dan perhatian yang diberikan kepada para oma, saya mengambil bagian dalam cinta Allah yang nyata. Saya melihat "tangan Tuhan" melalui kelancaran pelayanan, rasa sukacita dan senyum oma-oma yang bikin semuanya terasa berarti.


ACT
Pengalaman Saint Mary’s Way membuat saya semakin sadar bahwa pelayanan bukan hanya kegiatan sesaat, tetapi sikap hati yang harus dibawa setiap hari. Karena itu, saya ingin lebih peka terhadap kebutuhan sekitar dan tidak melewatkan kesempatan sederhana untuk berbuat baik. Ke depannya, saya berencana tetap terlibat dalam pelayanan sekolah seperti doa, bakti sosial, atau kunjungan. Saya juga ingin mencoba pelayanan di luar sekolah agar terus bertumbuh sebagai pribadi yang rendah hati, penuh perhatian, dan siap melayani karena menurut saya ini cara terbaik buat berkembang sebagai pengikut Kristus.








   





2 komentar:

Saint Mary's Way - Panti Werdha *THE RECOUNT TEXT*

My Experience of Saint Mary’s Way A little while ago, I joined a school program called Saint Mary’s Way, which was created for ninth graders...